OKUS, Kanalpos.com – Orpen Malhadi sosok penggiat seni yang kreatif. Dia mulai mengenal dunia kesenian berangkat dari seni tari. Belajar seni tari sejak tahun 1989 di Muara Dua Kisam, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan. Proses dilalui dari bermula aktif di perkumpulan remaja Dusun Ulak Agung. Dia mengenal dan belajar seni tidak hanya dari satu tangkai kesenian saja. Ada beberapa tangkai kesenian yang dipelajari oleh Orpen Malhadi. Menurutnya banyak mempelajari tangkai kesenian memperkaya ilmu dalam berksenian.

Orpen Malhadi melepas masa lajang pada tahun 1995 dengan menikahi seorang wanita bernama Herli Warni. Hasil dari perkawinan tersebut Orpen Malhadi dikaruniai tiga orang anak putra putri. Setelah menikah ada banyak perubahan terjadi pada kehidupan Orpen Malhadi. Dia dulu hanyalah seorang penggiat seni, namun semenjak tahun 2006 dia diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sekarang dia bekerja di kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS).

Untuk menyalurkan hobi berkeseniannya, pada tahun 2003 Orpen mendirikan sanggar seni bernama Betri Bukit Barisan di Muara Dua. Sanggar seni ini masih tetap beraktivitas sampai sekarang. Orpen sudah lama mengenal sastra lisan. Sudah semenjak lama pula dia berkeninginan untuk menjadi penutur sastra lisan tetapi baru beberapa tahun ini dia mencoba menjadi penutur sendiri. Dia dulu sering melihat orang-orang tua menembangkan syair sastra lisan di dusun tempat kelahiran Orpen Malhadi. Untuk menjadi penutur dan penembang yang baik diperlukan latihan olah vokal dan olah nafas yang bagus agar saat menembang nafas bisa teratur. Pengaturan nafas adalah sesuatu yang penting dalam penyampaian sastra lisan cerita yang kepada pendengar/petutur.

Orpen Malhadi bukanlah satu–satunya penggiat seni di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS) yang menguasai sastra lisan. Dia merasa bahwa apa yang dipelajarinya masih terbatas. Hal tersebut diakuinya saat berbincang tentang kebudayaan di tempat kerjanya. Selain memiliki kemampuan di bidang tari Orpen Malhadi juga seorang penutur sastra lisan. Hal tersebut bukanlah isapan jempol belaka. Di dalam prakteknya Orpen memang benar–benar bisa menembangkan syair sastra lisan dalam bahasa daerah dengan baik. Untuk tampil sebagai penutur syair–syair sastra lisan dibutuh penghayatan dan pemahaman isi dari syair yang akan dituturkan.

Orpen berpendapat bahwa sudah menjadi keharusan bagi penggiat seni untuk mampu mencipta dan mengembangkan karya–karya seni dengan gagasan-gagasan yang baru. Dia menegaskan bahwa kehadiran sastra lisan di semua kalangan membutuhkan orang-orang yang kreatif. Dia berharap bahwa sastra lisan yang ada di daerah-daerah di Sumatera Selatan tidak mengalami degradasi pada generasi penerusnya.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan terus-menerus memperkenalkan sastra lisan tersebut kepada generasi muda agar tidak mengalami kemunduran, atau pun bahkan hilang. Diperlukan penutur sastra lisan yang baru dari generasi muda. Dari sini mereka akan mampu menjadi generasi penerus bangsa yang menerima tongkat estafet dari generasi sebelumnya. Hal ini harus terjadi karena di dalam melestarikan sastra lisan dibutuhkan penutur–penutur muda dari sanggar–sanggar seni yang didirikan oleh penggiat seni itu sendiri. Wawancara dilakukan beberapa bulan yang lalu saat, oleh kanalpos. (Edwin fast )